Cerita Roro Jongrang (Babak 1)

Pada zaman dahulu kala di bawah kaki Gunung Lawu terdapat sebuah padepokan yang dipimpin oleh Begawan Sidik Paningal. Beliau memiliki seorang murid kesayangan yang bernama Bandung Bandawasa. Karena telah dirasa cukup berilmu, maka beliau memutuskan untuk melepas murid kesayangannya itu untuk mengebara dan mengamalkan ilmunya.

Begawan Sidik Paningal : “Bandung kemarilah!”

Bandung Bandawasa : “Ada apa gerangan guru memanggil saya.”

Begawan Sidik Paningal : “Bandung sudah 10 tahun kau belajar disini. Telah banyak ilmu yang telah engkau peroleh, kini kau harus mengamalkan ilmumu”.

Bandung Bandawasa : “Tapi…. saya ingin tinggal disini guru,Saya akan mengabdikan diri saya demi padepokan.”

Begawan Sidik Paningal : “Terimakasih Bandung, tapi sudah saatnya kau mengembara dan mencari jati dirimu. Kau kuberi keris yang dapat menaklukan jin dan siluman, gunakan saat kau benar – benar terdesak dan membutuhkannya”.

Bandung Bandawasa : “Baik lah guru, terimakasih atas segala sesuatu yang telah guru berikan”

Begawan Sidik Paningal : “Sama-sama Bandung”.

Bandung Bandawasa : “Kalau begitu saya mohon undur diri dan mohon doa restu”.

Begawan Sidik Paningal : “Restuku selalu menyertaimu”.

Bandung Bandawasa : “Assalamu’alaikum’.

Begawan Sidik Paningal : “Wa’alaikumsalam’.

Sudah 3 hari lamanya Bandung mengembara. Kini ia ada di depan pintu gerbang kota Pangging. Ia melihat prajurit berkuda lengkap yang akan berperang. Karena penasaran Ia mengikuti dan menyaksikan pertempuran itu, Pertempuran itu akhirnya dimenangkan oleh Prambanan karena Senopati Pengging yang bernama Senopati Darmamaya terluka parah. Karena iba, Ia datang dan membantu mengobati para prajurit Pengging yang terluka dan seorang prajurut melaporkan hal tersebut kepada Senopati Darmamaya.

Prajurit : “Tuan di luar ada pemuda hebat yang menyembuhkan banyak prajurit. M…. m… ahaa…. !!! Bagaimana kalau kita suruh dia mengobati tuan”.

Senopati Darmamaya : “m….. m….. gimana yaa…. Ok !! panggil dia kemari”.

Sesaat kemudian prajurit datang dengan membawa Bandung Bandawasa

Prajurit : “Ini dia tuan pemuda itu, tugas hamba selesai permisi tuan”.

Senopati Darmamaya : “Hai anak muda siapa namamu?”

Bandung Bandawasa : “Nama saya Bandung Bandawasa Tuan”.

Senopati Darmamaya : “Aku dengar kau sanggup menyembuhkan para prajuritku, apakah kau sanggup menyembuhkanku?

Bandung Bandawasa : “Hamba akan mecobanya, dengan seizin Tuhan Yang Maha Kuasa, niscaya Tuan akan sembuh.

Karena keesokan harinya Senopati Darmamaya belum sembuh maka Bandung didaulat untuk menggantinya sebagai pimpinan perang di medan magnet. Eeh….. salah maksudnya medan perang.

Senopati Suralangu : “Hai anak muda, siapa kau dan mau apa kau datang kemari”

Bandung Bandawasa : “Namaku Bandung Bandawasa, aku didaulat oleh Senopati Darmamaya untuk memimpin pasukan ini. Apa ada masalah?”

Senopati Suralangu : “Apa…..!!? jadi aku harus melawan anak ingusan sepertimu?”.

Prajurit : “Ingusan… ? Bukan ingusan tapi masih bau kencur”

Bandung Bandawasa : “Ok kalau begitu, kita lihat saja, siapa yang paling tangguh diantara kita! Gua tantang loe!”

Senopati Suralangu : “Baiklah……, aku terima tantanganmu!

Bandung Bandawasa : “Seerbuu …………!!!

Senopati Suralangu : “Seerbuu …………!!!

Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz

Bandung Bandawasa : “Ampun tidak……?!.

Bandung Bandawasa : “Tidak seharusnya kau meremehkan aku, sekarang ayo kita bawa dia sebagai tawana

Akhirnya peperangan itu pun dimenangkan oleh Bandung CS. Hal ini membuat Prabu Kalakarung amat, teramat sangat kecewa mendengar kabar tersebut.

Prajuit : “Ampun Prabu, ada kabar penting yang harus saya sampaikan.”

Prabu Kalakarung : “Kabar apa itu, cepat katakan!”

Prajurit : “Kita kalah perang prabu”

Prabu Kalakarung : “ Apaa…!!”

Prajurit : “Dan Senopati Suralangu ditawan oleh Pengging”.

Prabu Kalakarung : “OMG !! kalau begitu siapkan setrategi untuk membalas mereka!!”.

Sementara itu jauh di ujung sana Bandung dan Senopati Darmamaya sedang mengadakan rapat untuk mencari cara menguasai Prambanan.

Senopati Darmamaya : “Bandung, kita harus mencari cara untuk menguasai Prambanan”.

Bandung Bandawasa : “Ya… tapi bagaimana caranya senopati?”.

Senopati Darmamaya : “Ya mikirlah….masa mikir dong, ayo kita mikir!!” (sambil muter-muuter terus jedotan)

Senopati Darmamaya : “Apakah kamu sudh dapat ide”.

Bandung Bandawasa : “Bagaimana kalau saya mencari tahu setrategi mereka dengan cara menyusup?”.

Senopati Darmamaya : “Ide yang bagus, kalo begitu cepatlah kau bersiap – siap. Kita harus bergerak cepat”.

Jauh dari keadaan kerajaan yang memanas, maka Prabu Kalakarung datang ke kaputren untuk menemui putrinya untuk melepas kepenatan.

Prabu Kalakarung : “Putriku, sedang apa kau disana?”.

Roro Jonggrang : “Ayah.., ayaaaa…hh!!

Prabu Kalakarung : “Bagaimana kabarmu putriku ?”.

Roro Jonggrang : “Me good – good only, whats up my father? Kok wajah ayah kusut mlitut gitu?

Prabu Kalakarung : “Pasukan kita kalah perang, dan Senopati Suralangu ditawan oleh pengging”.

Roro Jonggrang : “Sudahlah yah, kata bu Emi “ kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda”. Jadi kita tidak boleh putus asa!!”

Prabu Kalakarung : “Kau benar anakku, tapi bukan cuma itu masalahnya”.

Roro Jonggrang : “Lalu apa masalah ayah?”

Prabu Kalakarung :”Semalam ayah bermimpi bertemu ibumu, Dia memanggil ayah di tepi sungai, lalu ayah nekat menyeberangi sungai itu, tapi ayah tak kuasa menahan arus dan terseret sehingga jatuh meninggalkan ibumu. Setelah itu ayah kaget dn terbangun.”

Roro Jonggrang :”Mungkin ayah terlalu rindu dengan Ibunda sehingga terbawa mimpi, sebaiknya ayah istirahat untuk menenangkan diri dulu.”

Ketika Roro Jonggrang sedang asyik berjalan – jalan, tiba – tiba Banung datang dengan nafas terengah – engah karena ketahuan oleh seorang prajurit.

Roro Jonggrang : “Siapa kau, ada apa kau kemari, jangan – jangan kau penyusup!

Bandung Bandawasa : “Maaf gusti putri, hamba tidak tahu kalau tempat ini terlarang bagi hamba”

Roro Jonggrang : “Lalu apa yang kau lakukan disini?”

Bandung Bandawasa : “Hamba hanya ingin melihat – lihat, maaf bila kedatangan hamba menggangu, kalau begitu hamba pamit”.

Roro Jonggrang : “Tunggu……,siapa namamu”?

Bandung Bandawasa : “Hamba adalah Putra Gunung Lawu”.

Roro Jonggrang : “Saya Roro Jonggrang, putri dari Prabu Kalakarung

Bandung Bandawasa : “Baiklah, hamba mohon undur diri. Permisi gusti putri”.

Sejak pertemuan itu, Roro Jongrang ataupun Bandung Bandawasa merasakan rasa yang berbeda, rasanya Manis…. Asem…. Asin enak rasanya tau kenapa?

source image : my.opera.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: