Cerita Roro Jongrang (Babak 2)

Rakyat Prambanan gelisah karena penyusup belum juga ditemukan. Prabu Kalakarung mempersiapkan prajurit untuk perang dengan pemimpin dia sendiri, melihat hal tersebut Roro Jonggrang gelisah dan takut.

Roro Jonggrang : “Emban….!”

Emban Sriti : “What happen putri, wonten menapa?”

Roro Jonggrang : “Emban, ayah akan pergi memimpin perang, aku hawatir jika beliau tidak akan selamat”.

Emban Sriti : “Jangan khawatir gusti putri, Prabu Kalakarung adalah panglima yang tangguh dan dipercaya oleh Raja Anglingdriya untuk meminpin Kadipaten Prambanan ini. Jadi putri tidak usah khawatir.

Roro Jonggrang : “Ya sudah kalau begitu lebih baik kita berdoa agar ayah bisa pulang dengan selamat”.

Pertempuran sengit pun kembali terjadi antara Bandung bandawasa VS Prabu Kalakarung.

Prabu Kalakarung : “Hai anak muda, jadi kau yang telah berani – berani merebut kekuasanku, sekarang giliranmu melawan ku”.

Bandung : “Baiklah ayo kita buktika siapa yang pling hebat”.

Prabu Kalakarung : “Serbuu…..!!!”.

Bandung : “Serbuu…..!!!”. (Gamsut 3 kali)

Prabu Kalakarung : “Aaakh……….!!!”.

Bandung : “Akhirnya kita mampu mengalahkan Prabu Kalakarung, Senopati Darmamaya pasti senang mendengar kabar ini, ayo kita pulang!

Prajurit : “Ya ayo”.

Sejak pertempuran itu dan sejak meninggalnya Prabu Kalakarung, Roro Jonggrang sring mengurung diri di kaputren. Akhirnya kekuasaan Prambanan jatuh ke Bandung Bandawasa dan Senopati Darmamaya. Untuk menjalin hubungan yang baik dengan Roro Jonggrang maka mereka bermaksud menemuinya.

Adpti Darmamaya : “Selamat pagi putri, semoga kedatangan kami tidak mengganggu”.

Emban : “Tentu saja tidak, ada apa gerangan Tuan datang kemari?”.

Adpti Darmamaya : “Sebelumnya kami mengucapkan maaf dan turut berduka cita atas meninggalnyaPrabu Kalakarung”.

Roro Jonggrang : “Mudah sekali kau berkata seperti itu!!! Kau tak tahu perasaanku, kau hanya memikirkan dirimu sendiri”.

Senopati Bandung : “Maaf beribu maaf, hamba hanya menyelamatkan diri hamba. Semoga putri tahu kedudukan hamba”.

Roro Jonggrang : “Lalu apa mau kalian datang kemari?”.

Senopati Bandung : “Kami ingin mempersatukan Prambanan dan Pengging”.

Roro Jonggrang : “Lalu apa yang kaliaan inginkan?”.

Adipati Darmamaya : “Kami bermaksud ingin meminang putri, kebetulan Bandung telah jatuh cinta pada putri”.

Roro Jonggrang : “Tapi saya masih ragu”.

Senopati Bandung : “Ragu…?! Ragu mengapa? Ganteng ……. pasti, Manis…… buuuanget, atletis…… so pasti, tajir…….. apalagi!! Jadi kurang apa??”.

Roro Jonggrang : “Baiklah beri aku waktu untuk berunding dengan simbok”.

Adipati darmamaya : “Silahkan saja”.

X-X-X-X-X-X-X-X-X-X-X

Roro Jonggrang : “Baiklah aku terima lamaranmu”.

Senopati Bandung : “Yes lamaranku diterima”.

Roro Jonggrang : “Tapi denagan satu syarat. Aku ingin kau membuatkanku 1000 candi dalam satu malam”.

Senopati Bandung : “Baiklah tapi apa jaminan bila kau ingkar?”.

Roro Jonggrang : “Biarlah aku menjadi patung selama – lamanya, jika aku ingkar!”.

Senopati Bandung : “Baiklah, biarlah kami semua disini menjadi saksinya, jika kau ingkar kau akan menjadi patung selama – lamanya”.

source image : ringchery.blog.stisitelkom.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: